slank and colloquialism

beberapa menit yang lalu, sempat mendengarkan slank dengan “Fungky Junkie “-nya. Lantas saya teringat dengan dengan kata-kata “gue banget” , “capek deh”, “so what gitu lho?!”, karena jaman sudah mulai instan istilah-istilah lain yang tidak kalah santernya disingkat menjadi “GPL”, “EGP”, katanya biar “ga ngabis2in karakter sms”.

dalam bahasa indonesia yang tidak mengenal speech level mungkin tidak akan mnjadi sesuatu yang berarti. tapi bagaimana jika anda mendengar kalimat “yo ageh adhuso mmak, ghe-pe-el yo“, “yo ghe-pe-pe ta mba” saya geli sekali mendengarnya. tapi untuk beberapa orang di masyarakat daerah yang masih kental hal semacam ini mungkin menjadi suatu yang ora umum :) (saya mengutip dari seorang teman yang berasal dari banyuwangi), apalagi ditujukan kepada orang yang lebih tua dan butuh banyak penghargaan.

Belum lagi ketika anda berkunjung ke malang dengan bahasa khas kiwalannya. awalnya saya tida pernah “dong” ketika seorang teman mengajak membeli olos oskab “tik, ntar kita beli olos oskab ya?, saya bengong lantas bertanya “apaan tuh, olos oskab?”. kolokualism ternyata mawarnai bahasa yang juga berkembang. eklektik yang unsur-unsurnya sangat beragam. kita semakin dibawa ke arus pluralisme bahasa tanpa kita sadar.

~ oleh artsporeslife di/pada Juli 29, 2008.

Satu Tanggapan to “slank and colloquialism”

  1. asyik2 aja tuh, so what gitu loh

Tinggalkan Balasan