about the hippy freshy

•Januari 21, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

inspired by this winter;  fure coat, scarf, and  pantofel shoes or boot, that are the hippy marks. maybe this trend will not be more popular when the winter is over, changed by spring or summer. but by putting a little modification that doesn’t change the character of this style, that’s ok wearing it in any seasons. Scarf still lays around the neck (suitable for long neck), and the material chaged by easy absorb material like cotton (suitable for summer). Bright color identics with summer or sunshine that brings courage ang active movement. open sleeves that don’t resist the activites give energic sign. for the ornament just use tear drop or chain necklace over the scarf twist. for hair cut just try the mobtop or the bowl cut that gives strong dinamic in the beginning of 2009. hippy on summer, why not? (more? visit; www.artsharinggallery.com)

about the hippy freshy

•Januari 8, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

About the hippy freshy

Terinspirasi oleh musim dingin tahun lalu; mantel bulu, scarf dan sepatu fantofel atau boot, yang merupakan ciri dari hippy. Tren ini akan mungkin tidak akan diminati lagi ketika musim dingin telah berlalu, tergantikan oleh musim panas. Namun dengan sedikit modifikasi yang tidak mengubah style hippy maka sah-sah saja orang menggunakannya dalam musim apapun. Scarf masih tetap mengiasi leher (cocok untuk orang yang memiliki leher yang panjang), dan bahan diganti dengan bahan yang mudah menyerap keringat seperti katun. Warna yang cerah, identik dengan musim panas yang membawa semangat dan gerak aktif, dan lengan yang terbuka yang tidak menghambat aktifitas dan memberi kesan enerjik. untik pemanis gunakan kalung tear drop atau kalung rantai melebihi liltan scarf. Untuk tren rambut cobalah the moptop atau the bowl cut yang menguatkan kesan dinamis di tahun 2009. hippy di musim panas, mengapa tidak? (selengkapnya www.artsharinggallery.com)

hippy-freshy

slank and colloquialism

•Juli 29, 2008 • 1 Tanggapan

beberapa menit yang lalu, sempat mendengarkan slank dengan “Fungky Junkie “-nya. Lantas saya teringat dengan dengan kata-kata “gue banget” , “capek deh”, “so what gitu lho?!”, karena jaman sudah mulai instan istilah-istilah lain yang tidak kalah santernya disingkat menjadi “GPL”, “EGP”, katanya biar “ga ngabis2in karakter sms”.

dalam bahasa indonesia yang tidak mengenal speech level mungkin tidak akan mnjadi sesuatu yang berarti. tapi bagaimana jika anda mendengar kalimat “yo ageh adhuso mmak, ghe-pe-el yo“, “yo ghe-pe-pe ta mba” saya geli sekali mendengarnya. tapi untuk beberapa orang di masyarakat daerah yang masih kental hal semacam ini mungkin menjadi suatu yang ora umum :) (saya mengutip dari seorang teman yang berasal dari banyuwangi), apalagi ditujukan kepada orang yang lebih tua dan butuh banyak penghargaan.

Belum lagi ketika anda berkunjung ke malang dengan bahasa khas kiwalannya. awalnya saya tida pernah “dong” ketika seorang teman mengajak membeli olos oskab “tik, ntar kita beli olos oskab ya?, saya bengong lantas bertanya “apaan tuh, olos oskab?”. kolokualism ternyata mawarnai bahasa yang juga berkembang. eklektik yang unsur-unsurnya sangat beragam. kita semakin dibawa ke arus pluralisme bahasa tanpa kita sadar.

When two become one (ind. vers)

•Juli 29, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kita tahu bahwa barat dan timur sangat berbeda sebagai dua bagian besar dari dunia. akan sulit bagi anda untuk beradaptasi bilamana sebelumnya anda tinggal dibagian yang berbeda, beberapa “cultural shocks” mungkin akan anda temukan ketika anda mengunjungi bagian yang lainnya. Tapi, sadar atau tidak, hal itu yang membuat kita ingin tahu lebih banyak;

p e r b e d a a n

Saya tingal di sebuah tempat di timur, katakanlah Indonesia. Saya rasa, keren, jika saya bisa mengunjungi negara-negara lain yang tentunya, sangat berbeda dengan negara saya. Bisa jadi pebedaannya adalah bahasanya, budayanya atau bahkan ideologinya.

Berbicara tentang budaya, ada banyak tempat yang menarik yang menjadi tempat wisata terkenal. Bali, Jogjakarta, Bandung, dan banyak lagi. Mungkin anda telah mengenal Pura, Tari Kecak, Candi, Gamelan, dan sebagainya. kita memiliki batik dengan motif yang beragam dan teknik pembuatannya dengan canting. kita juga juga memiliki situs arsitektur seperti Borobudur dan Prambanan yang menjadi warisan dunia.

Beberapa budaya atau (bahkan) ideologi dibawa ke Indonesia. hal ini berlangsung sejak jaman penjajahan oleh orang barat. di bidang arsitektur, kita menemukan beberapa gaya; Barok, Rococo, Gothik, New Gothic, dan sebagainya.

Dua hari yang lalu terdapat fashion show dengan tema “Wedding Open House unforgettable Moment” (radar malang, 28/7). motif flora di bagian bawah gaun, lengan yang menggelembung, dan dada yang berkerut adalah ciri-ciri gaya victoria.

Di sisi lain, ada beberapa orang barat tertarik memakai batik dan bermain gamelan. ekletik mungkin terjadi di banyak kesempatan :)

when two become one

•Juli 28, 2008 • 1 Tanggapan

we know that the west and the east are very different as two big part of the world. you find it difficult to adapt when you used to live in different part of it, some cultural shocks you may encounter when you visit the other. but, we realize it or not, that what makes us want to know more; the difference.

I live in some place of the east part just name it Indonesia. I think it’d be very great if i can visit other countries that of course, very different from mine. it can be the language, the culture or even the ideology.

talking about the culture, there are so many places of interest of my country that be a tourism place well known. Bali, Jogjakarta, Bandung, and more. You may have known Pura, Kecak dance, Candi, Gamelan, etc. we have batik with various motif and the making technique with canting. We also have some architectural sites, just like Borobudur and Prambanan that become the world inheritance.

It’s also nice to know that some cultures or (even) ideologies were brought to Indonesia. It has been continuous since colonialism era by westerner. In architectural field, we find out some styles; Baroque, Rococo, Gothic, new Gothic, etc.

Yesterday there was fashion show with “Wedding Open House Unforgettable Moment” theme (radar malang, 28/7). flora motif in lower part of gown, puff sleeves, and wrinkled chest are Victorian characteristics.

On the other hand, there are some westerner attracted to wear batik and to play Gamelan. The eclectic of the two may occur in many occasions :)

get the sky line

•Juli 27, 2008 • 1 Tanggapan

There are so many old tree branches, few leaves, but it seems so interesting to make it unity as a part of the sky. I call it the “sky line” that may appear on some photography objects. Some, may, don’t pay attention that a take at some angles will become a great picture. And the blue background may become an interesting intuition question to us “is it a contrary?” where you can be free feel with the blue and the white, but in the other hand, the barren branches may mean something negative, destruction, loneliness, long dry, or anything. The plenty of light makes the impression can be read easily. what do you think?

Hello world!

•Juli 27, 2008 • 1 Tanggapan

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!